Akhirnya ngeblog lagi. Pagi ini, tiba-tiba saya pengen ngeblog. Tapi, kali ini saya tidak peduli lagi dengan segala aturan penulisan yang saya buat sendiri. Toh, pembaca juga nggak ngeh, maksudnya.
Lagi pula kali ini saya tidak akan menuliskan pikiran saya yang sedang sungguh kacau balau. Saya belum bisa mempercayai pikiran saya untuk sementara. Semoga tidak lama.
Akhir-akhir ini saya bertemu dengan orang-orang aneh. Kebanyakan dari mereka adalah seniman. Saya juga seniman, sepertinya. Bedanya, mereka jelas profesi seninya, musisi. Sedangkan saya... Wallaahu 'alam. Yang jelas, saya juga aneh, sepertinya. Gak tau deh. Terkadang saya pun mempertanyakan kewarasan saya.
Saya merasa ada konektivitas dengan mereka, orang-orang aneh itu. Padahal cara berfikir kami, banyak berbeda. Usia, tampang, pengalaman, skill, beda semua.
Rupanya, ada satu hal yang menyatukan kami: sama-sama terinspirasi oleh alm. Kang Harry Roeli. Berikut ini adalah tulisan beliau dalam rubrik Asal Usul pada harian Kompas, 17 Desember 2000. Silahkan baca aja deh. Kalo suka dan paham, berarti ente (kemungkinan) termasuk orang aneh.
****
SEPERTI kita ketahui, Bumi mengelilingi Matahari selama 365 hari dengan kecepatan sekitar 900 juta km. Jadi per hari/24 jam Bumi menempuh + 2,5 km, atau per menit 800 km, atau per detik 30 km.
Kalau saja tiba-tiba para elite politik kita lewat DPR, mencoba mengamandemen dalil tadi. Misalnya dengan tekanan lewat lobi-lobi, lewat demo bayaran, lewat kaukus-kaukus, lewat pansus-pansus, bahkan lewat impeachment Bumi diharuskan mengelilingi matahari 10 X lipat lebih cepat !! Boleh jadi para politikus ini tidak merasa terganggu, malahan tambah bersemangat!!!
Akan tetapi, tanpa mereka sadari kecepatan Bumi per detik untuk mengelilingi Matahari menjadi 300 km. Sehingga jarak tempuh Bumi mengelilingi Matahari cukup 36,5 hari saja, tidak perlu 365 hari.
Artinya, satu tahun, kita hanya punya 36,5 hari saja. Artinya lagi, sehari-semalam hanya 2,4 jam, atau 2 jam 12 menit, siang 1 jam 6 menit, malam 1 jam 6 menit. Sampai sini para elite politik belum merasa terganggu!
Tapi pola tidur kita terganggu, hanya 1 jam 6 menit! Satpam/jaga malam di PHK. Cucian, perlu 3 bulan untuk bisa kering. Pub atau klab malam mati kutu, karena live music baru main 3 lagu harus buru-buru tutup, sebab sudah adzan subuh. Hostes pun beralih profesi jadi tukang serabi gejrot! Hanya saja untuk berpuasa cukup 1 jam 6 menit, berarti orang durhaka-pun bisa tahan berpuasa. Sampai sini, para elite politik tidak merasa ada gangguan malahan hanya tertawa-tawa geli.
Akan tetapi, waktu seorang elite partai baru saja jatuh tertidur karena mendengarkan sidang, dan sudah harus bangun lagi, karena sidang sudah selesai, barulah para elite ini terganggu: "Ini tidak benar!! Masa baru saja saya tertidur untuk mencari ilham menginterupsi sidang, eh, sudah harus bangun!! Bagaimana ini?" Mereka baru merasa terganggu karena gangguan jarak Bumi-Matahari tadi.
Atau seperti cerita legenda Sangkuriang. Ketika eksekutif sedang serius menyusun "gerendel" (catenaccio), untuk menangkis pansus, tiba-tiba ayam berkokok sebelum "gerendel" selesai disusun, karena gangguan jarak Bumi-Matahari tadi. Akhirnya sang Boss marah "gerendel" pun ditendang, seperti Sangkuriang menendang perahu yang belum selesai. Tapi kabarnya "gerendel" tadi bukan jadi gunung, tapi jadi gerbang, yang terjemahan bebasnya dalam bahasa Inggris "Gate". Barulah mereka terganggu.
Jadi, percuma saja rakyat berteriak-teriak, menyumpah serapah, mencaci maki, memprotes keras, mengimbau, memberi solusi, menulis di koran, membuat seminar, diskusi, talkshow, dan sebagainya, dengan maksud mendapat perhatian para elite ini. Toh, tetap legislatif dan eksekutif ini tenang-tenang saja terus bertikai, tanpa terganggu. Sementara rakyat hidupnya sudah amat sangat berat terganggu. Mungkin mereka harus dibuat terganggu dulu, baru mereka mau mendengar. Sayangnya kita tidak bisa memohon bumi dan matahari menggangu mereka seperti di awal tulisan ini. Jadi kita harus berbuat apa untuk mengganggu konflik mereka yang semakin garang!!!?
***
KEGARANGAN mereka itu, disebabkan dulu (zaman Pak Harto) diharamkan menjadi orang garang. Sedangkan sekarang kalau tidak garang itu tidak elite namanya. Bahkan beberapa elite politik yang sekarang garangnya minta ampun, mungkin dulunya berbisik pun dia tidak berani. Benar juga
kata Bapak Denis Goulet (1975, 66-82), manakala teknologi dan politik menjadi segala-galanya bagi faktor penentu dalam mengambil keputusan, maka kualitas-kualitas kemanusiaan seperti intuisi, empati, toleransi, solidaritas, sosial, citarasa, objektivitas, menjadi marjinal posisinya. Konyol sekali, coba Anda perhatikan! Dulu (zaman Orba), pengamat politik saat itu bisa dihitung dengan jari, dan yang statementnya obyektif bisa dihitung dengan sebelah tangan, sedang yang lain statement ala kadarnya. Tapi pasca otoriterisme, bisa dikatakan setiap RT punya dua orang pengamat politik. Dan, sah saja kalau pendapatnya berbeda. Bahkan harus diusahakan berbeda, kalau tidak berbeda, bukan pakar namanya.
Lahirlah ribuan statement bertebaran di media massa. Doktor, profesor, memberi ribuan solusi untuk kemelut negeri ini. Pakar senior bersuara, pakar baru pun lahir dengan teori-teori baru. Paradigma-paradigma baru lahir, baik yang bernas ataupun tidak. Bahkan karena bingungnya saya mencoba menyusun sebuah tulisan berjudul; "Membentuk wacana dengan paradigma yang signifikan, guna membicarakan secara substansial krisis multi dimensional yang krusial". Padahal saya tidak tahu apa ituartinya paradigma, signifikan, krusial, substansial. Saya hanya senang saja dengan kata-kata itu, senang menyebutnya, serasa pakar.
Pendek kata, seluruh pakar mencoba memberi sumbang saran. Gus Dur harus begitu, Akbar harus begini, Amien jangan begitu, Mega sebaiknya begini , Aceh harus dibeginikan, Irian harus dibegitukan, Ambon jangan dibegitukan dan sebagainya. Ternyata berita yang nyata hanya.... Topan dan Leysus dipecat oleh Pak Timbul.
Kondisi carut marut seperti ini, sebenarnya dibenarkan oleh tulisan Bapak Valvac Havel, dalam judul buku The Post Communist Nightmare (The New York review of books, 1993:8-10). Dia bilang, bahwa keberhasilan gerakan prodemokrasi menumbangkan rezim totaliter ternyata tidak selalu berarti jalan mulus bagi suatu rekonstruksi sosial politik pada masa sesudahnya. Dia menambahkan, kondisi masyarakat pasca revolusi selalu dipenuhi kontradiksi, ironi, dan permasalahan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Konflik etnis, agama, faksi politik, dan tumbuhnya populisme berlebihan sebagai hasil frustrasi berkepanjangan. Vavlac, penyair, dan kemudian menjadi Presiden Cekoslovakia, adalah saksi mata jatuhnya rezim totaliter-komunis di Eropa Timur.
Pertanyaannya, apakah pengalaman Vavlac Havel ini mau kita jadikan pembenaran, "Tuh, negara orang lain juga gitu". Atau sebaliknya kita jadikan pelajaran untuk tidak jadi "begitu". Ada satu orang lagi, Miroslav, pekerja teater asal Bosnia, bercerita langsung kepada saya bahwa sudah 10 tahun antara mereka bertikai. Dan saat ini mulai tampak wajah senyum dari rekonsiliasi, tapi setelah 10 tahun negara ini diobok-obok, dan sudah babak belur, carut marut, centang perentang, hancur lebur. Mereka mulai berhenti bertikai, karena bosan. Dan karena tidak ada lagi yang bisa dipertikaikan.
Lagi-lagi pertanyaannya: "Maukah kita menunggu delapan tahun lagi, untuk terus bertikai, karena sekarang baru dua tahun ? Dan apakah kita bisa seperti mereka, setelah 10 tahun lalu bosan bertikai?
Jangan-jangan kita tidak punya rasa bosan? Dan, jangan-jangan setelah 10 tahun, "kita" tidak ada lagi?"
Cerita di atas tadi, sengaja saya tulis untuk "mengganggu" para elite politik kita. Tapi cerita tadi mungkin terlalu "permukaan", jadi saya tidak tahu pasti akan hasilnya. Tapi yang jelas jika konflik
horizontal multi dimensi ini tidak ditangani, maka lagu "Dari Sabang sampai Merauke" harus direvisi. Mungkin lirik awalnya diubah menjadi "Dari Medan sampai ke Ambon...." Tetapi celaka kita, kalau satu saat anak-anak kita menyanyikan lagu ini, dengan lirik: "Dari Merak sampai ke Banyuwangi..."
Saya benar-benar serius ingin "mengganggu" para elite yang terhormat. Makanya, siap-siaplah kalau lagu di atas direvisi lagi dengan lirik awal. "Dari Daan Mogot sampai Taman Mini, menjajar warung-warung " (Daan Mogot, daerah Jakarta Barat. Taman Mini, daerah Jakarta Timur)
Pak Elite menjawab: "Siapa takut !!"
Showing posts with label pemikiran. Show all posts
Showing posts with label pemikiran. Show all posts
Wednesday, April 15, 2015
Wednesday, March 28, 2012
Galau? Mungkin Otot "Willpower" Lemas (1)
Saya bukan membicarakan tentang 'galau' versi anak gaul yang geyal-geyol. Yang saya maksud adalah 'galau' versi pemikir yang otaknya selalu berfikir, bahkan di saat tidur, ataupun saat boker.
Sebut saja namanya Igor, seorang seniman. Ia juga memiliki kemampuan teknis maupun konseptual untuk bidang-bidang pekerjaan yang sangat beragam. Banyak pekerjaan dan proyek yang mampu ia selesaikan sendirian maupun bersama tim.
Namun di caturwulan awal tahun ini, Igor menghadapi kegalauan. Ia harus memikirkan cara mendapatkan sebanyak mungkin peserta event sosial yang diselenggarakan oleh pengajiannya. Sedangkan timnya juga memiliki banyak kesibukan dan sulit untuk mengandalkan mereka untuk aktifitas teknis.
Ketua panitia juga meminta bantuannya dalam mendesain undangan untuk para VIPs, dan mendisain artist impressions untuk memotivasi tim besar. Setelah dua hari tiga malam nongkrong di depan komputer, tak satupun desain undangan yang jadi. Igor merasa kehilangan 'kesaktian' estetikanya. Apalagi, karena juga seorang konseptor, ia juga memikirkan bagaimana membuat naskah undangan yang mampu berkomunikasi efektif sesuai tujuan event.
Di sisi lain ia juga harus membuat perencanaan pemasaran untuk pabrik furnitur yang memerlukan perbaikan manajemen. Perencanaan perbaikan manajemen sudah dibuat oleh rekan-rekannya. Yang ia harus lakukan "hanyalah" how to create sales untuk sebuah perusahaan yang sedang berbenah diri. Dan karena sedang berbenah diri, perusahaan tersebut tidak dapat diandalkan untuk sumber pemasukannya. Apalagi niatnya hanya ingin membantu temannya untuk memperbaiki perusahaan.
Pekerjaan Igor selama ini memang "hanya membantu" para pengusaha untuk mendukung aktifitas pemasaran. Ia hanyalah konsultan yang sesekali sekaligus menangani hal teknis. Jika pekerjaannya tidak memerlukan biaya, ia pun tidak memasang tarif. Namun klien-kliennya juga "membantu" dengan sejumlah uang ketika "bantuan" Igor dianggap selesai.
Tapi saat ini Igor sangat galau sehingga tidak mampu berfikir cerah untuk membantu klien-kliennya. Setidaknya ada tiga pekerjaan yang belum ia tangani dan ditunggu oleh para klien. Sedangkan uang yang ia pegang tinggal untuk menghitung jam.
"Gue harus gimana yah? Pusing banget nih gue!", curhat Igor kepada saya.
Saya sendiri sering menghadapi hal seperti Igor. Tapi belum pernah sekompleks ini. Cerita di atas sudah saya ringkas. Cerita aslinya jauh lebih rumit. Dan Igor bukanlah tipe pengeluh. Ia adalah orang yang penuh senyum, humoris, kecuali saat ia berfikir yang pasti mengerutkan dahinya. Ia juga sebenarnya bukan tipe pen-curhat. Namun tampaknya kali ini Igor perlu curhat juga rupanya.
"Tapi lo jangan cerita ke siapa-siapa, Jo!" pesan Igor sama saya. "Jo" adalah salah satu panggilan akrab saya selain "Joul", "Jrul", "James", "Richard" dan "Rick". Tiga nama terakhir memang ngarang.
"Tapi gue boleh tulis di blog, ya! Nama lu entar gue ganti deh," jawab saya yang sebenarnya minta ijin untuk cerita-cerita. Igor hanya tertawa, yang saya anggap dia setuju.
Well, saya sendiri gak punya jawaban atas masalah Igor. Tapi menariknya, saya menemukan inti masalahnya ada pada Willpower yang Igor miliki. Hal ini saya ketahui dari tulisan berjudul "Melatih "Otot" Willpower" yang ada di majalah Intisari edisi Januari 2012. Tampaknya Igor mengalami lemah otot Willpower. Penyebabnya dapat dilihat dalam tulisan berikutnya.
![]() |
| Images from Dilber.com |
Namun di caturwulan awal tahun ini, Igor menghadapi kegalauan. Ia harus memikirkan cara mendapatkan sebanyak mungkin peserta event sosial yang diselenggarakan oleh pengajiannya. Sedangkan timnya juga memiliki banyak kesibukan dan sulit untuk mengandalkan mereka untuk aktifitas teknis.
Ketua panitia juga meminta bantuannya dalam mendesain undangan untuk para VIPs, dan mendisain artist impressions untuk memotivasi tim besar. Setelah dua hari tiga malam nongkrong di depan komputer, tak satupun desain undangan yang jadi. Igor merasa kehilangan 'kesaktian' estetikanya. Apalagi, karena juga seorang konseptor, ia juga memikirkan bagaimana membuat naskah undangan yang mampu berkomunikasi efektif sesuai tujuan event.
Di sisi lain ia juga harus membuat perencanaan pemasaran untuk pabrik furnitur yang memerlukan perbaikan manajemen. Perencanaan perbaikan manajemen sudah dibuat oleh rekan-rekannya. Yang ia harus lakukan "hanyalah" how to create sales untuk sebuah perusahaan yang sedang berbenah diri. Dan karena sedang berbenah diri, perusahaan tersebut tidak dapat diandalkan untuk sumber pemasukannya. Apalagi niatnya hanya ingin membantu temannya untuk memperbaiki perusahaan.
Pekerjaan Igor selama ini memang "hanya membantu" para pengusaha untuk mendukung aktifitas pemasaran. Ia hanyalah konsultan yang sesekali sekaligus menangani hal teknis. Jika pekerjaannya tidak memerlukan biaya, ia pun tidak memasang tarif. Namun klien-kliennya juga "membantu" dengan sejumlah uang ketika "bantuan" Igor dianggap selesai.
Tapi saat ini Igor sangat galau sehingga tidak mampu berfikir cerah untuk membantu klien-kliennya. Setidaknya ada tiga pekerjaan yang belum ia tangani dan ditunggu oleh para klien. Sedangkan uang yang ia pegang tinggal untuk menghitung jam.
"Gue harus gimana yah? Pusing banget nih gue!", curhat Igor kepada saya.
Saya sendiri sering menghadapi hal seperti Igor. Tapi belum pernah sekompleks ini. Cerita di atas sudah saya ringkas. Cerita aslinya jauh lebih rumit. Dan Igor bukanlah tipe pengeluh. Ia adalah orang yang penuh senyum, humoris, kecuali saat ia berfikir yang pasti mengerutkan dahinya. Ia juga sebenarnya bukan tipe pen-curhat. Namun tampaknya kali ini Igor perlu curhat juga rupanya.
"Tapi lo jangan cerita ke siapa-siapa, Jo!" pesan Igor sama saya. "Jo" adalah salah satu panggilan akrab saya selain "Joul", "Jrul", "James", "Richard" dan "Rick". Tiga nama terakhir memang ngarang.
"Tapi gue boleh tulis di blog, ya! Nama lu entar gue ganti deh," jawab saya yang sebenarnya minta ijin untuk cerita-cerita. Igor hanya tertawa, yang saya anggap dia setuju.
Well, saya sendiri gak punya jawaban atas masalah Igor. Tapi menariknya, saya menemukan inti masalahnya ada pada Willpower yang Igor miliki. Hal ini saya ketahui dari tulisan berjudul "Melatih "Otot" Willpower" yang ada di majalah Intisari edisi Januari 2012. Tampaknya Igor mengalami lemah otot Willpower. Penyebabnya dapat dilihat dalam tulisan berikutnya.
Bersambung ke Galau? Mungkin Otot "Willpower" Lemas (2) yang akan ditulis nanti, kalau rajin.
Monday, October 6, 2008
Berfikir TERBA(L)IK
Setelah menghabiskan Eid Holiday di Benhil, Duren Sawit, dan rumah Om Fer, akhirnya aku dan istriku kembali ke rumah Cak Joyo. Lho? Iya, Allah Maha Pengasih dan Penyayang.
Aku dititipkan sebuah rumah yang indah oleh Cak Joyo di Vila Dago untuk ditinggali oleh aku dan istriku. Jadi itu bukan rumahku. Itu rumah milik Allah yang dititipkan ke Cak Joyo.
Anyway...
Sampai di Vila Dago sekitar jam 21.00. Pas lagi ada Pak Irsan lagi nyapu jalanan di depan rumahnya. Di samping mobilnya yang diparkir di depan pagar banyak pecahan beling akibat gelas yang dijatuhkan oleh... aduh... siapa ya tadi dia bilang? Anaknya mungkin. Inilah jadinya kalo punya otak gak pernah berhenti berfikir. Kadang gw kayak orang autisme. Pikiran suka melanglang jagad raya. Gak peduli orang lagi ngobrol sama gw.
Disuguhin kastengel, korma, nastar dan Aqua gelas sama Pak Irsan dan istrinya. Ngobrol ngalor ngidul ketawa ketiwi, terus pulang deh. Untuk sampe di depan rumah manis rumah ( home sweet home maksudnya) hanya perlu waktu 5 detik! Ya, iyalah... orang rumahnya berseberangan. Jalannya kecil lagi.
Sampe di rumah langsung nyalain laptop. Terus ditinggal bentar. Pas balik lagi, istri udah nongkrong di depan laptop. Apalagi yang dibuka kalo bukan Facebook!
Setelah memasang 2 dari 4 handle jendela yang dibeli seharga Rp6000,- di OkeDoku Buaran (Iya bener, sekarang di OkeDoku harganya dah gak lima ribuan lagi), gw pun masuk kamar. Jam menunjukkan pukul 00.04 pas lagi ada film Jacky Chan pas masih muda. Nonton sama istri TV sama istri solehah di rumah (titipan) memang menyenangkan.
Film habis, TV dimatikan, lampu juga dimatikan, terus... hehehe... ngobrol!
Walaupun kami berusaha tidur, kayaknya jam biologis gw emang udah kebalik. Gw gak ngantuk sama sekali. Perut lapar pula. Persediaan telor (yang merupakan lauk favorit gw) habis. Padahal udah jam 01.33. Istri pun menyarankan gw untuk berangkat kerja aja. Setelah dipertimbangkan selama 1 menit 12 detik, akhirnya gw menyetujui usulan tersebut.
Setelah membackup beberapa file dari laptop ke flashdisk, pada jam 02.27 gw pun berangkat menuju kantor dengan motor Honda Grand Astrea (titipan Cak Joyo juga).
Betapa lengangnya jalanan di Jakarta pada pagi buta seperti tadi. Wuih!!! Asyik banget. Gw bahkan sempat mampir ke warung nasi uduk Betawi di pasar Kebayoran Lama untuk menjawab keroncongan perut. Walaupun gorengan tahu dan tempe sudah habis, makan nasi uduk dengan lauk semur tahu, orek tempe, plus semur telur di tengah segarnya udara Jakarta dini hari sangat mantap!
Gw emang suka berangkat kantor seperti ini. Ketika orang berangkat pagi, gw berangkat malam. Ketika orang kerja siang, gw kerja malam. Ketika orang mengkonsep secara terstruktur, gw lebih memilih secara acak atau lebih tepatnya non linear. Serba terbalik.
Dulu gw pikir gw udah termasuk kreatif. Tapi kok kayaknya masih ada sesuatu di dalam hidup ini yang terasa berat. Berarti gw belum teramat kreatif walaupun sudah dari dulu hidup terbalik.
Ada seorang bijak yang biasa dipanggil oleh murid2nya dengan sebutan YM Abu. Beliau ini selalu menekankan kepada semua orang bahwa kunci kesuksesan hidup adalah 'suka cita' yang merupakan pengejawantahan dari rasa syukur. Menurut beliau, tidak ada sesuatu di dalam hidup ini yang perlu disedihkan, selama kita selalu berfikir positif.
Beliau kemudian memberikan banyak contoh yang salah satunya adalah cerita seorang lelaki yang sedih diputus oleh pacarnya. Sedih kali lah ceritanya.
"Sedih kali lah aku ni. Pacarku meninggalkanku...", kira-kira dimikian pikiran si lelaki dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkin juga pake contact lens.
Padahal ada hal positif yang bisa diambil dari kejadian yang ia alami. Kalau dia selalu suka cita dan bersyukur terhadap apa yang dia alami, dia akan berfikir,"Wah, inilah kesempatan untuk mendapatkan pacar yang lebih baik."
Banyak contoh lainnya yang diberikan oleh YM Abu yang seorang ulama dan juga akademisi ini. Kalau ada sebuah bentuk lengkung, itu bisa berarti cembung atau cekung. Semuanya tergantung dari cara kita memandang.
Gw sangat setuju dengan pemikiran YM Abu. Semuanya logis. Namun, gw sempat bingung mengimplementasikan metode 'suka cita' tersebut terhadap beberapa hal dalam hidup yang menurut gw sendiri rasanya mentok. Dan itu sudah berlangsung berbulan-bulan.
Tapi Alhamdulillah, di bulan Ramadhan yang lalu, Allah memberikan petunjukNya. Tak sengaja gw menemukan sebuah buku berjudul 'Whatever You Think, Think The Opposite' yang ditulis oleh Paul Arden seorang pengarah kreatif senior di Inggris.
Gw memang selalu menekankan pada diri gw bahwa 'Berfikir di Luar Kotak' itu tidak cukup. Kalo kata Rico Fikri,"Kita harus berfikir 'Out of This World". Tapi kecenderungannya, walaupun sudah diluar kotak, gw masih suka melirik pada kotak yang tadinya gw tinggalkan. Artinya, gw masih terjebak di sekitar kotak.
Nah, di dalam buku Paul Arden itu, justru dia menyarankan untuk berfikir terbalik sebagai sebuah solusi atas berbagai kebuntuan. Banyak banget dia ngasih contoh. Mungkin gw bisa ngasih contoh yang sepadan.
Ingat Iwa Kusuma yang rapper itu? Generasi yang lahir tahun 90an mungkin kurang akrab dengan Iwa. Tapi dia ini dulu sangat sukses sebagai rapper di Indonesia. Kesuksesan dia itu adalah hasil berfikir terbalik, minimal dalam masyarakatnya. Dia nongol saat dunia musik Indonesia dibanjiri dengan genre Heavy Metal! Pada jaman gw masih SMP itu, gw aja bikin grup metal bernama Dizzy. Bahkan, konser2 lokal yang digelar radio Mustang mengusung grup-grup metal. Tapi, Iwa gak ikutan head bang. Orang-orang lagi pada demen gondrong, eh dia malah botak! Tapi sukses kan?

Beberapa poin dalam tulisan Paul Arden diantaranya:
#1 Dipecat? Itu adalah hal yang terbaik yang terjadi pada diri anda.
#2 Jangan kuliah! Kerja aja!
#3 No ONE but No. 1 (agak susah menerjemahkannya)
#4 Ambil resiko!
#5 Elu itu seniman, tau!
#6 Punya gagasan itu gak selamanya bagus.
Beberapa poin diatas sudah gw implementasikan selama ini. Ini adalah ajakan untuk selalu berfikir positif. Semua adalah peluang. Jangan dengarkan orang-orang yang menurut anda akan menghambat anda untuk maju.
Dari pandangan saya ketika membaca buku itu, berfikir terbalik yang dimaksud adalah berfikir terbalik dari pikiran orang pada umumnya. Berani berfikir beda, berani ambil resiko, jangan takut apapun.
Tapi bagaimana caranya untuk keluar dari tekanan hidup yang amat berat yang kita alami yang kita sendiri takut ketika "momen yang ditakutkan" itu tiba? Nah...
Di dalam buku tersebut, Paul Arden banyak memberikan contoh mengenai berfikir terbalik termasuk ketika seseorang menghadapi masalah.
Seorang putra pejuang IRA (Tentara Pembebasan Irlandia) menghadapi sebuah masalah yang dianggapnya berat. Ia lalu curhat pada ayahnya.
"Ayah, awak ini lagi payah kali lah... Berat kali masalah awak niii...", ujar sang anak memulai curhat (kok logatnya gak British ya?).
Bukannya menanggapi lebih mendalam terhadap curhatan si anak, ayahnya malah balik bertanya,"Apakah masalah kau itu bisa bikin kau mati?"
"Nggak sih", jawab sang anak.
"Berarti kau akan baik-baik aja... Santai ajalah!", tukas sang ayah menutup obrolan. Si anak pun pergi.
Kalau dibandingkan banyak orang lain di dunia ini, sesungguhnya masalah kita ini tidaklah terlalu berat. Banyak orang lain yang punya masalah yang jauh lebih berat. Jangan takuti hal yang belum pasti terjadi. Yang pasti terjadi hanyalah kematian. Kalau sekadar bonyok, tinggal diobati. Yang penting kita tenang dan bersyukur atas apa yang kita dapatkan. Kemudian fokuskan pikiran pada hal-hal positif.
Sahabat gw yang biasa gw sebut Bang Arie sering mengganti kata-kata negatif gw jadi lebih positif.
"Bang, kalo nanti saya kaya, saya akan...", belum selesai gw ngomong dia menimpali,"Jangan 'kalo nanti' dong... Ketika nanti saya sudah kaya, saya akan..."
"Bang, kita punya beberapa masalah nih. Gini, bang...", lagi-lagi di memotong,"Ah, gak ada itu masalah. Jangan bilang kita punya masalah, dong! Bilang: kita punya beberapa tantangan!"
Dan gw selalu setuju dengan cara Bang Arie ini dalam memandang sesuatu secara positif.
Intinya... bersyukur, bersuka cita, dan berfikir terbalik! Selalu ada yang positif dibalik pikiran yang terbalik. Berani berfikir terbalik, dan berani menghadapi ketakutan... Dapatkan kesuksesan!
XHARE (blog asli gw)
Aku dititipkan sebuah rumah yang indah oleh Cak Joyo di Vila Dago untuk ditinggali oleh aku dan istriku. Jadi itu bukan rumahku. Itu rumah milik Allah yang dititipkan ke Cak Joyo.
Anyway...
Sampai di Vila Dago sekitar jam 21.00. Pas lagi ada Pak Irsan lagi nyapu jalanan di depan rumahnya. Di samping mobilnya yang diparkir di depan pagar banyak pecahan beling akibat gelas yang dijatuhkan oleh... aduh... siapa ya tadi dia bilang? Anaknya mungkin. Inilah jadinya kalo punya otak gak pernah berhenti berfikir. Kadang gw kayak orang autisme. Pikiran suka melanglang jagad raya. Gak peduli orang lagi ngobrol sama gw.
Disuguhin kastengel, korma, nastar dan Aqua gelas sama Pak Irsan dan istrinya. Ngobrol ngalor ngidul ketawa ketiwi, terus pulang deh. Untuk sampe di depan rumah manis rumah ( home sweet home maksudnya) hanya perlu waktu 5 detik! Ya, iyalah... orang rumahnya berseberangan. Jalannya kecil lagi.
Sampe di rumah langsung nyalain laptop. Terus ditinggal bentar. Pas balik lagi, istri udah nongkrong di depan laptop. Apalagi yang dibuka kalo bukan Facebook!
Setelah memasang 2 dari 4 handle jendela yang dibeli seharga Rp6000,- di OkeDoku Buaran (Iya bener, sekarang di OkeDoku harganya dah gak lima ribuan lagi), gw pun masuk kamar. Jam menunjukkan pukul 00.04 pas lagi ada film Jacky Chan pas masih muda. Nonton sama istri TV sama istri solehah di rumah (titipan) memang menyenangkan.
Film habis, TV dimatikan, lampu juga dimatikan, terus... hehehe... ngobrol!
Walaupun kami berusaha tidur, kayaknya jam biologis gw emang udah kebalik. Gw gak ngantuk sama sekali. Perut lapar pula. Persediaan telor (yang merupakan lauk favorit gw) habis. Padahal udah jam 01.33. Istri pun menyarankan gw untuk berangkat kerja aja. Setelah dipertimbangkan selama 1 menit 12 detik, akhirnya gw menyetujui usulan tersebut.
Setelah membackup beberapa file dari laptop ke flashdisk, pada jam 02.27 gw pun berangkat menuju kantor dengan motor Honda Grand Astrea (titipan Cak Joyo juga).
Betapa lengangnya jalanan di Jakarta pada pagi buta seperti tadi. Wuih!!! Asyik banget. Gw bahkan sempat mampir ke warung nasi uduk Betawi di pasar Kebayoran Lama untuk menjawab keroncongan perut. Walaupun gorengan tahu dan tempe sudah habis, makan nasi uduk dengan lauk semur tahu, orek tempe, plus semur telur di tengah segarnya udara Jakarta dini hari sangat mantap!
Gw emang suka berangkat kantor seperti ini. Ketika orang berangkat pagi, gw berangkat malam. Ketika orang kerja siang, gw kerja malam. Ketika orang mengkonsep secara terstruktur, gw lebih memilih secara acak atau lebih tepatnya non linear. Serba terbalik.Dulu gw pikir gw udah termasuk kreatif. Tapi kok kayaknya masih ada sesuatu di dalam hidup ini yang terasa berat. Berarti gw belum teramat kreatif walaupun sudah dari dulu hidup terbalik.
Ada seorang bijak yang biasa dipanggil oleh murid2nya dengan sebutan YM Abu. Beliau ini selalu menekankan kepada semua orang bahwa kunci kesuksesan hidup adalah 'suka cita' yang merupakan pengejawantahan dari rasa syukur. Menurut beliau, tidak ada sesuatu di dalam hidup ini yang perlu disedihkan, selama kita selalu berfikir positif.
Beliau kemudian memberikan banyak contoh yang salah satunya adalah cerita seorang lelaki yang sedih diputus oleh pacarnya. Sedih kali lah ceritanya.
"Sedih kali lah aku ni. Pacarku meninggalkanku...", kira-kira dimikian pikiran si lelaki dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkin juga pake contact lens.
Padahal ada hal positif yang bisa diambil dari kejadian yang ia alami. Kalau dia selalu suka cita dan bersyukur terhadap apa yang dia alami, dia akan berfikir,"Wah, inilah kesempatan untuk mendapatkan pacar yang lebih baik."
Banyak contoh lainnya yang diberikan oleh YM Abu yang seorang ulama dan juga akademisi ini. Kalau ada sebuah bentuk lengkung, itu bisa berarti cembung atau cekung. Semuanya tergantung dari cara kita memandang.
Gw sangat setuju dengan pemikiran YM Abu. Semuanya logis. Namun, gw sempat bingung mengimplementasikan metode 'suka cita' tersebut terhadap beberapa hal dalam hidup yang menurut gw sendiri rasanya mentok. Dan itu sudah berlangsung berbulan-bulan.
Tapi Alhamdulillah, di bulan Ramadhan yang lalu, Allah memberikan petunjukNya. Tak sengaja gw menemukan sebuah buku berjudul 'Whatever You Think, Think The Opposite' yang ditulis oleh Paul Arden seorang pengarah kreatif senior di Inggris.
Gw memang selalu menekankan pada diri gw bahwa 'Berfikir di Luar Kotak' itu tidak cukup. Kalo kata Rico Fikri,"Kita harus berfikir 'Out of This World". Tapi kecenderungannya, walaupun sudah diluar kotak, gw masih suka melirik pada kotak yang tadinya gw tinggalkan. Artinya, gw masih terjebak di sekitar kotak.
Nah, di dalam buku Paul Arden itu, justru dia menyarankan untuk berfikir terbalik sebagai sebuah solusi atas berbagai kebuntuan. Banyak banget dia ngasih contoh. Mungkin gw bisa ngasih contoh yang sepadan.
Ingat Iwa Kusuma yang rapper itu? Generasi yang lahir tahun 90an mungkin kurang akrab dengan Iwa. Tapi dia ini dulu sangat sukses sebagai rapper di Indonesia. Kesuksesan dia itu adalah hasil berfikir terbalik, minimal dalam masyarakatnya. Dia nongol saat dunia musik Indonesia dibanjiri dengan genre Heavy Metal! Pada jaman gw masih SMP itu, gw aja bikin grup metal bernama Dizzy. Bahkan, konser2 lokal yang digelar radio Mustang mengusung grup-grup metal. Tapi, Iwa gak ikutan head bang. Orang-orang lagi pada demen gondrong, eh dia malah botak! Tapi sukses kan?

Beberapa poin dalam tulisan Paul Arden diantaranya:
#1 Dipecat? Itu adalah hal yang terbaik yang terjadi pada diri anda.
#2 Jangan kuliah! Kerja aja!
#3 No ONE but No. 1 (agak susah menerjemahkannya)
#4 Ambil resiko!
#5 Elu itu seniman, tau!
#6 Punya gagasan itu gak selamanya bagus.
Beberapa poin diatas sudah gw implementasikan selama ini. Ini adalah ajakan untuk selalu berfikir positif. Semua adalah peluang. Jangan dengarkan orang-orang yang menurut anda akan menghambat anda untuk maju.
Dari pandangan saya ketika membaca buku itu, berfikir terbalik yang dimaksud adalah berfikir terbalik dari pikiran orang pada umumnya. Berani berfikir beda, berani ambil resiko, jangan takut apapun.
Tapi bagaimana caranya untuk keluar dari tekanan hidup yang amat berat yang kita alami yang kita sendiri takut ketika "momen yang ditakutkan" itu tiba? Nah...
Di dalam buku tersebut, Paul Arden banyak memberikan contoh mengenai berfikir terbalik termasuk ketika seseorang menghadapi masalah.
Seorang putra pejuang IRA (Tentara Pembebasan Irlandia) menghadapi sebuah masalah yang dianggapnya berat. Ia lalu curhat pada ayahnya.
"Ayah, awak ini lagi payah kali lah... Berat kali masalah awak niii...", ujar sang anak memulai curhat (kok logatnya gak British ya?).
Bukannya menanggapi lebih mendalam terhadap curhatan si anak, ayahnya malah balik bertanya,"Apakah masalah kau itu bisa bikin kau mati?"
"Nggak sih", jawab sang anak.
"Berarti kau akan baik-baik aja... Santai ajalah!", tukas sang ayah menutup obrolan. Si anak pun pergi.
Kalau dibandingkan banyak orang lain di dunia ini, sesungguhnya masalah kita ini tidaklah terlalu berat. Banyak orang lain yang punya masalah yang jauh lebih berat. Jangan takuti hal yang belum pasti terjadi. Yang pasti terjadi hanyalah kematian. Kalau sekadar bonyok, tinggal diobati. Yang penting kita tenang dan bersyukur atas apa yang kita dapatkan. Kemudian fokuskan pikiran pada hal-hal positif.
Sahabat gw yang biasa gw sebut Bang Arie sering mengganti kata-kata negatif gw jadi lebih positif.
"Bang, kalo nanti saya kaya, saya akan...", belum selesai gw ngomong dia menimpali,"Jangan 'kalo nanti' dong... Ketika nanti saya sudah kaya, saya akan..."
"Bang, kita punya beberapa masalah nih. Gini, bang...", lagi-lagi di memotong,"Ah, gak ada itu masalah. Jangan bilang kita punya masalah, dong! Bilang: kita punya beberapa tantangan!"
Dan gw selalu setuju dengan cara Bang Arie ini dalam memandang sesuatu secara positif.
Intinya... bersyukur, bersuka cita, dan berfikir terbalik! Selalu ada yang positif dibalik pikiran yang terbalik. Berani berfikir terbalik, dan berani menghadapi ketakutan... Dapatkan kesuksesan!
XHARE (blog asli gw)
Subscribe to:
Posts (Atom)

