Showing posts with label pekerjaan. Show all posts
Showing posts with label pekerjaan. Show all posts

Wednesday, March 28, 2012

Galau? Mungkin Otot "Willpower" Lemas (1)

Saya bukan membicarakan tentang 'galau' versi anak gaul yang geyal-geyol. Yang saya maksud adalah 'galau' versi pemikir yang otaknya selalu berfikir, bahkan di saat tidur, ataupun saat boker.
Images from Dilber.com
Sebut saja namanya Igor, seorang seniman. Ia juga memiliki kemampuan teknis maupun konseptual untuk bidang-bidang pekerjaan yang sangat beragam. Banyak pekerjaan dan proyek yang mampu ia selesaikan sendirian maupun bersama tim.

Namun di caturwulan awal tahun ini, Igor menghadapi kegalauan. Ia harus memikirkan cara mendapatkan sebanyak mungkin peserta event sosial yang diselenggarakan oleh pengajiannya. Sedangkan timnya juga memiliki banyak kesibukan dan sulit untuk mengandalkan mereka untuk aktifitas teknis.

Ketua panitia juga meminta bantuannya dalam mendesain undangan untuk para VIPs, dan mendisain artist impressions untuk memotivasi tim besar. Setelah dua hari tiga malam nongkrong di depan komputer, tak satupun desain undangan yang jadi. Igor merasa kehilangan 'kesaktian' estetikanya. Apalagi, karena juga seorang konseptor, ia juga memikirkan bagaimana membuat naskah undangan yang mampu berkomunikasi efektif sesuai tujuan event.

Di sisi lain ia juga harus membuat perencanaan pemasaran untuk pabrik furnitur yang memerlukan perbaikan manajemen. Perencanaan perbaikan manajemen sudah dibuat oleh rekan-rekannya. Yang ia harus lakukan "hanyalah" how to create sales untuk sebuah perusahaan yang sedang berbenah diri. Dan karena sedang berbenah diri, perusahaan tersebut tidak dapat diandalkan untuk sumber pemasukannya. Apalagi niatnya hanya ingin membantu temannya untuk memperbaiki perusahaan.

Pekerjaan Igor selama ini memang "hanya membantu" para pengusaha untuk mendukung aktifitas pemasaran. Ia hanyalah konsultan yang sesekali sekaligus menangani hal teknis. Jika pekerjaannya tidak memerlukan biaya, ia pun tidak memasang tarif. Namun klien-kliennya juga "membantu" dengan sejumlah uang ketika "bantuan" Igor dianggap selesai.

Tapi saat ini Igor sangat galau sehingga tidak mampu berfikir cerah untuk membantu klien-kliennya. Setidaknya ada tiga pekerjaan yang belum ia tangani dan ditunggu oleh para klien. Sedangkan uang yang ia pegang tinggal untuk menghitung jam.

"Gue harus gimana yah? Pusing banget nih gue!", curhat Igor kepada saya.

Saya sendiri sering menghadapi hal seperti Igor. Tapi belum pernah sekompleks ini. Cerita di atas sudah saya ringkas. Cerita aslinya jauh lebih rumit. Dan Igor bukanlah tipe pengeluh. Ia adalah orang yang penuh senyum, humoris, kecuali saat ia berfikir yang pasti mengerutkan dahinya. Ia juga sebenarnya bukan tipe pen-curhat. Namun tampaknya kali ini Igor perlu curhat juga rupanya.

"Tapi lo jangan cerita ke siapa-siapa, Jo!" pesan Igor sama saya. "Jo" adalah salah satu panggilan akrab saya selain "Joul", "Jrul", "James", "Richard" dan "Rick". Tiga nama terakhir memang ngarang.

"Tapi gue boleh tulis di blog, ya! Nama lu entar gue ganti deh," jawab saya yang sebenarnya minta ijin untuk cerita-cerita. Igor hanya tertawa, yang saya anggap dia setuju.

Well, saya sendiri gak punya jawaban atas masalah Igor. Tapi menariknya, saya menemukan inti masalahnya ada pada Willpower yang Igor miliki. Hal ini saya ketahui dari tulisan berjudul "Melatih "Otot" Willpower" yang ada di majalah Intisari edisi Januari 2012. Tampaknya Igor mengalami lemah otot Willpower. Penyebabnya dapat dilihat dalam tulisan berikutnya.
Bersambung ke Galau? Mungkin Otot "Willpower" Lemas (2) yang akan ditulis nanti, kalau rajin.

Sunday, January 6, 2008

Perjuangan Sabda Kasih Damai

Bila anda berada di Jl. Prof. Dr. Latumenten, Jakarta Barat, terdapat gang kecil persis di muka Jl. Jembatan Besi 3, yang hanya dapat dilintasi sepeda motor . Di dalam gang kecil itu terdapat halaman semen diselimuti oleh kerindangan pohon bambu serta berbagai pohon hias.

Walaupun langit cerah berawan tipis, suasana di tempat itu begitu damai dan sejuk. Suasana yang sangat kontras dengan ramainya lalu lintas kendaraan di jalan raya yang berjarak hanya beberapa meter diluar gang. Persis di depan rumpun bambu terdapat meja besar yang diapit dua bangku panjang yang saya duduki bersama tiga orang keturunan Tionghoa yang ramah. Sampoerna A-Mild yang saya hisap terasa begitu nikmat melengkapi obrolan kami berempat. Tempat itu bernama Vihara Sabda Kasih Damai.

Nama Sabda Kasih Damai yang disandang vihara Budha Tri Dharma itu menjadi gambaran sikap dan sifat umatnya yang begitu toleran. Mereka bahkan menunggu waktu magrib, yang tinggal dua jam lagi, untuk makan karena menghormati saya yang saat itu (10/11/07) saya sedang berpuasa Ramadhan. Rasa toleransi mereka yang sangat tinggi ini menunjukkan bahwa anggapan etnis Tionghoa sebagai komunitas eksklusif adalah salah.

Mereka sering melaksanakan kegiatan sosial dan keagamaan yang melibatkan masyarakat sekitarnya. Melalui album foto yang saya lihat, mereka sering memberikan bantuan materi, seperti sembako, bagi masyarakat tanpa memandang suku, etnis, dan agama. Sebuah gambaran kecil tentang kasih dan kedamaian yang mereka sabdakan.

Sayangnya ketenteraman vihara ini tidak dapat dinikmati setiap saat. Seperti sebagian besar wilayah Jakarta, vihara yang berjarak hanya sekitar 10 km dari pantai utara inipun selalu terancam oleh serangan banjir. Kondisi ini diperparah oleh jalan raya didepannya yang lebih tinggi dari halaman vihara. Bahkan di triwulan terkahir 2007, bagian tengah Jl. Prof. Dr. Latumenten itu makin ditinggikan dengan jalur busway koridor IX.

Walaupun menyebabkan kesengsaraan bagi warga Jakarta (soal ini tidak perlu dibahas lagi), tampaknya Pemda DKI lebih memilih mengeluarkan duit untuk menyelesaikan proyek busway -dan bahkan proyek monorel- dibandingkan menuntaskan masalah banjir.

"Yang penting Jakarta terlihat keren dulu... Ada busway, ada monorel, dan mungkin subway. Lagipula kan proyek ini banyak duitnya buat kita. Kalau banjir sih, mana ada duitnya?", begitu mungkin yang terpikir oleh SPPB (Sang Penggagas Proyek Busway).

Gagasan brilian SPPB ini menyebabkan banyak hal negatif yang membuat saya justru mengangkat topi sebagai penghormatan bagi perjuangan warga Jakarta (kaya dan miskin) untuk bertahan hidup. Macet yang diakibatkan oleh berkurangnya bandwidth jalan yang dimakan jalur busway menyebabkan turunnya pendapatan para supir angkutan umum non busway. Di sisi lain para pekerja dan pengguna angkutan umum memilih untuk menggunakan sepeda motor yang mampu menghindari kemacetan serta dapat menekan biaya transportasi mereka. Sepeda motorpun begitu mudah didapatkan melalui lembaga pembiayaan.

Pengusaha juga harus memutar otak lebih keras karena biaya distribusi yang semakin meningkat. Lalu, cadangan minyak nasional juga terancam karena kemacetan menyebabkan borosnya penggunaan bahan bakar minyak (BBM) oleh kendaraan bermotor. Belum lagi masalah global warming akibat tingginya emisi gas buang jutaan kendaraan bermotor yang terjebak macet selama minimal 6 jam di hari kerja, pagi dan sore.

Walahhhhhh.... Itulah berbagai masalah di Jakarta, kota yang tetap menggiurkan bagi bangsa Indonesia untuk tinggal di sana. Di Jakarta, Pemda DKI mendidik warganya untuk berjuang sendirian tanpa bantuan yang berarti. Berjuang sendirian dan tetap membayar pajak. Lho? Iya! Itulah Jakarta. Dan inilah blog... bebas bicara sampai lupa topik awal.

Okeh, kembali ke laptop!

Sebagaimana warga Jakarta pada umumnya, umat Vihara Sabda Kasih Damai juga berjuang tanpa bantuan pemerintah dalam menyikapi banjir. Kalau di daerah Tebet, Jakarta Selatan, beberapa warganya menyiapkan plafon untuk tidur di saat rumah mereka terendam banjir setinggi 1 meter. Sedangkan umat Vihara Sabda Kasih Damai memilih untuk membangun kembali vihara mereka dengan fondasi yang lebih tinggi 1,5 meter dari jalan raya. Vihara yang berdiri sejak tahun 1969 ini akan diruntuhkan dan digantikan dengan bangunan vihara yang lebih besar untuk menampung umat yang semakin banyak.

Untuk itulah saya, ko Andreas (arsitek), ko Pil (jemaah vihara), dan ko Ronald (pimpinan vihara) nongkrong bareng di bawah rindangnya rumpun bambu Vihara Sabda Kasih Damai untuk membahas rencana pembangunan kembali vihara tersebut. Yang mendisain ulang dan bertanggungjawab atas pembangunan vihara nanti adalah ko Andreas. Sedangkan saya hanya mengerjakan visualisasi 3D dari disain beliau untuk memberikan gambaran bagi umat vihara bagaimana kelak jadinya vihara yang mereka bangun bersama.


Semoga Vihara Sabda Kasih Damai yang baru cepat terealisasi untuk dapat tetap menyabdakan kasih secara damai bagi warga Jakarta. Peace!

Sunday, November 4, 2007

It's a Real PDA!



Masih ingat PDA Phone Xplore G88 & G18? Produk dari Fifth Media ini pernah menghebohkan dunia perponselan Jakarta dengan taglinenya "Not Just a Smart Phone... It's a Real PDA!".

Pada masa itu orang memang lagi senang senangnya dengan yang namanya smartphone. Artinya telepon yang pintar, ada game, ada kamera, ada organiser, ada pemutar musik, dan sebagainya. Kalau jaman sekarang sih, telepon yang harganya gak nyampe cetiaw aja juga udah smart.

Klaim "It's a Real PDA!" itu sih menurut saya terlalu berlebihan khususnya bagi pengguna sejati PDA. Xplore G18 & G88 menggunakan Palm OS versi 4. Padahal jaman itu sudah ada versi 5 bahkan 6. Tapi dibilang bohong juga nggak. Karena ponsel itu memang bisa digunakan sebagai PDA.

Jadi buat yang pengguna pemula PDA, Xplore G18 & G88 cukup bisa memenuhi hasratnya untuk memiliki smartphone (walaupun dengan kamera beresolusi rendah) sekaligus PDA 'kembaran' Palm Top. Terbukti dengan begitu tingginya permintaan akan produk tersebut. Saking tingginya, pihak Fifth Media Indonesia kewalahan menangani keluhan konsumen. Keluhan?

Ya! Produk itu sering hang, bo! Yah, anda yang mengikuti perkembangan ponsel pasti sudah tahu mengenai hal tersebut. Fifth Media Indonesia sendiri sampai saat ini tidak diketahui rimbanya.


Tapi paling tidak, saya berhasil membantu membuat produk ini laku di pasaran. Konsep kreatif saya simpel. Yang penting di benak konsumen, produk ini canggih, produk impor (dari Taiwan, sih), dan lebih hebat dari smartphone. Tugas saya pun selesai.

Memang, keberhasilan pemasaran tidak lain juga dikarenakan produknya begitu imut dan seksi. Jadi orang percaya bahwa produk ini canggih. Strategi yang disusun oleh Marketing Manager Fith Media Indonesia, Nikolas Chandra, untuk menembak pengguna pemula PDA sudah tepat. Dan saya hanya membantu mengaktualisasikan dan menginterpretasikannya melalui komunikasi visual.





Saturday, November 3, 2007

Telepon Ceria dan Pasangan Ahli Surga

Suatu ketika pada hari Minggu sekitar jam 22.00 WIB saya dihubungi oleh seorang sahabat yang bekerja di perusahaan periklanan Fortune Indonesia. Mereka butuh bantuan dalam pembuatan still-o-matic iklan TV untuk dipresentasikan di depan calon kliennya pada hari Senin keesokan harinya. Calon kliennya itu adalah PT Sampoerna Telekomunikasi Tbk yang menaungi brand Ceria, sebuah produk telepon fixed wireless CDMA.

Sebenarnya sejak dua hari sebelumnya mereka sudah membuatnya di sebuah production house di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Tapi entah kenapa, pada malam itu travo listrik di depan bangunan studio itu terbakar hingga menyebabkan putusnya aliran listrik di wilayah itu. Otomatis video still-o-matic yang sedang mereka buat tidak dapat dilanjutkan. Padahal video itu harus dibawa keesokan harinya untuk dipresentasikan.


Pada jam 01.00 dini hari saya tiba di studio kreatif Fortune Indonesia. Setelah chit chat dengan wajah-wajah lama dan baru, sayapun mulai bekerja. Wajah lama dan baru? Ya! Saya dulu pernah bekerja di Fortune Indonesia sebagai Creative Group Head.

Target saya jam 08.00 pagi sudah kelar karena saya harus menjemput ibu saya di bandara Soekarno-Hatta. Tapi ternyata jam 10.30 siang baru kelar karena ada tiga alternatif video yang harus dibuat. Inilah yang selalu mengganggu. Saya adalah seorang yang perfeksionis dalam bekerja. Karena sifat itulah saya bekerja terlalu detail yang menurut orang lain tidak terlalu penting. Sulit menghilangkan sifat saya itu. Kalau kurang detail rasanya seperti berdosa.

Anyway, saya tiba di bandara sekitar jam 11.15 setelah ngebut dengan mobil yang ban belakangnya agak botak. Saya berharap pesawat delayed agar masih dapat menemui sang ibu. Memang delayed, tapi cuma setengah jam. Dan ternyata ibu saya sudah tiba di rumah jam sekitar jam 11 siang itu. Beliau pulang dengan menggunakan bus Damri.

Betapa kecewa dan menyesalnya saya dengan diri saya sendiri. Betapa tidak berbaktinya saya terhadap ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkan saya.

Begitu tiba di rumah saya menyampaikan rasa penyesalan kepada ibu saya atas kejadian itu. Namun, ibu saya memang seorang ibu yang tiada duanya. Selain masakannya sangat lezat tak tertandingi, beliau sangat mengerti situasi saya. Beliau sama sekali tidak marah. Beliau cuma bilang bahwa semestinya saya ngasih tau kalau tidak bisa menjemputnya. Ini dia, beliau anti terhadap handphone!

Sikap ibu saya yang begitu memahami situasi pekerjaan itu merupakan refleksi dari pandangannya. Sewaktu masih berumur belasan tahun, saya pernah ngobroldengan beliau tentang ayah saya yang workaholic. Beliau berpesan agar kelak saya seperti ayah saya yang bekerja dengan tulus ikhlas tanpa korupsi. Sebuah quotedari ibu saya yang sampai saat ini masih selalu terlintas di benak saya adalah,”Lelaki sejati adalah lelaki yang menjadikan pekerjaannya sebagai istri muda!".

Semoga Ibu dan Ayah saya menjadi pasangan ahli surga. Amin

Berikut ini adalah hasil pekerjaan saya dalam semalam.

Ceria TVC

For presentation and shooting guide (by me)


Post Production (by Fortune Indonesia)

Wednesday, October 31, 2007

Carrefour Marketing Communication & Activation Program


Initial Team:

Brand Activator of Fortune Indonesia
Remy T. Sinjal (Brand Team Leader)
Anthony Ricardo Fikri (Strategic Planning Director)
David Honadi (Account Director)
Siska L. Sjah (Account Manager)
Ikhsan Aulia (Account Manager)
Dhany (Account Executive)
Moh. Fajrul Hidayat / Ajoull (Creative Group Head)
John Umboh (Copywriter)
Erry Firmangus (Art Director)
Bagyo (Graphic Designer)



Setelah turut serta sukses memenangkan McDonald’s sebagai account baru, sayapun kembali ditarik menjadi tentara bayaran di Fortune Indonesia dan ditempatkan di brand team Activator sebagai Creative Group Head.

Tugas pertama saya di brand team baru ini adalah menyusun strategi kreatif untuk memenangkan pitching Carrefour Indonesia. Sebenarnya, Carrefour (baca: Ka’r fuur) memang memiliki banyak kelebihan bila dibandingkan dengan hyper market yang lain di Indonesia. Jadi tidak sulit untuk membuat kegiatan pemasaran mereka berhasil. Kami hanya membuatnya lebih stand out saja.

Waktu pitching tersebut kami menyodorkan strategi yang sangat komprehensif dan benar-benar gokil. Mereka suka, dan Carrefour berhasil menjadi klien baru Fortune Indonesia. Sayangnya, dalam perjalanannya tidak semua strategi itu dijalankan. Yah, hampir semua klien memang begitu adanya.
Salah satu perubahan yang mendasar pada Carrefour adalah bingkai iklan reguler yang tayang satu kali seminggu. Bingkai yang dimaksud adalah bentuk grafis unik yang melingkupi iklan cetak dengan kombinasi warna biru dan merah sehingga iklan Carrefour mudah dikenali.

Sebelum Carrefour kami tangani, iklan-iklan mereka nyaris tanpa identitas dan sulit dikenali. Iklan reguler hanya menampilkan produk, harga, dan logo(serta tagline “Ke Carrefour aja, ahh…!”) dengan latar kotak putih. Bayangkan bila logo secara tidak sengaja tertutup, maka audiens akan sulit membedakan iklan Carrefour dengan iklan lainnya.

Saya membuat bingkai itu berdasarkan bentuk logo Carrefour sehingga lebih menyatu dengan brand. Tadinya, komposisi logo saya bikin 2/3 dari lebar iklan. Mengikuti kemauan klien, maka komposisi logo itu sekarang semakin mengecil. Rupanya klien ingin lebih mengutamakan dagangannya dibandingkan brandnya sendiri. Saya pikir, ya sudahlah. Yang penting ciri khasnya tetap menonjol.

Zepr0%, Zero Percent Promo. Ini juga bikinan saya. Tadinya, Zepr0% ini hanya nama folder di komputer saya. Tapi, menurut Rico (Anthony Ricardo Fikri), setiap aktifitas promosi perlu brand name. Jadi kenapa Zepr0% tidak diajukan saja sebagai brand? Dan marketing director Carrefour-pun setuju dengan brand tersebut.

Untuk memasyarakatkan Zepr0%, ada dua seri iklan TV dan radio yang konsepnya saya buat. Sebenarnya saya tidak terlalu bangga dengan iklan TV yang dibintangi oleh Lidya Pratiwi tersebut. Karena terlalu banyak informasi yang dimuat dalam satu spot iklan berdurasi 30 detik dan (yang lebih sering ditayangkan) 15 detik, pesan yang disampaikanpun menjadi tidak fokus pada brand. Padahal Zepr0% merupakan brand baru yang belum melekat dibenak konsumen. Namun dari 3 alternatif iklan yang disodorkan, konsep itulah yang dipilih. Kayaknya memang demikian tipikal pengiklan ritel. Sesuai dengan prinsip ekonomi, kalau bisa satu spot iklan berkapasitas 10 spot iklan biar lebih irit biaya.

Kalau saya pribadi, saya ingin mengkomunikasikan Carrefour secara lebih emosional. Karena menurut saya, target market Carrefour lebih condong ke keluarga. Tapi kalau iklan model begini sepertinya sulit untuk dibeli klien peritel.

Kasus yang sama terjadi pada iklan TV untuk program Carrefour 7th Anniversary dimana si talenthost acara infotainment yang menyampaikan berita yang gak penting dalam 30 menit. iklan Irfan Hakim harus beraksi seperti layaknya tukang obat. Dengan menyampaikan begitu banyak informasi penting hanya dalam 30 detik dan (juga lebih sering) 15 detik, dia telah berhasil mengalahkan seorang rapper.

Yang cukup saya banggakan adalah lagu iklan dalam iklan radio pada program Zepr% semester kedua. Saya turut menciptakan lagu bernuansa blues itu bersama Rico. Bahkan saya juga ikut rekaman dengan memainkan gitar dalam iklan tersebut.

Lagu iklan inipun diangkat dalam activation on the bus. Dalam activation ini, lagu iklan dimainkan sepasang pengamen untuk setiap bis. Total sekitar 10 pasang pengamen tersebar di bis-bis Jakarta selama 5 hari. Para pengamen bukannya minta duit, malah membagi-bagikan brosur. Keren kan?

Pada bagian interlude lagu, kedua pengamen itu juga melakukan tanya jawab mengenai Zepr0%. Tentu saja kegiatan tanya jawab ini hanyalah akting kedua pengamen mengikuti skenario. Dengan cara ini penumpang mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai Zepr0%. Hal ini juga membuat penumpang ikut bertanya pada pengamen.